Sanad Hadits Pada Syi’ah

Bookmark and Share

Sanad Hadits Pada Syi’ah

Pada edisi yang lalu, Anda sekalian telah mengikuti penanya yang menafikan pembakaran ‘Ali radiyallahu anhu terhadap Syi’ah (pendukung) beliau yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab mereka. Akan tetapi yang menarik perhatian darinya adalah  perendahan dia terhadap kitab-kitab hadits Ahlussunnah.
Tanpa melihat apakah dia orang yang mengethui ilmu hadits menurut Ahlussunnah ataukah tidak, maka mari kita mengenal ilmu hadits pada Syi’ah agar kita bisa melihat apakah ada ilmu hadits yang sebenarnya pada Syi’ah atau tidak.



Atas dasar ini, saya katakan kepada setiap orang yang tertipu dengan agama ini, bahwa Syi’ah imammiyyah (iman dua belas), tidak ada pada mereka satu sunnah pun, maksudnya tidak ditemukan pada mereka hadits-hadits dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bahkan kitab-kitab hadits mereka, yang mereka amalkan dengan meriwayatkannya, adalah hadits-hadits yang dikatakan melalui lisan Abu ‘Abdillah, Ja’far as-Shadiq, iman keenam pada mereka.

Adapun sanad hadits-hadits, maka sanad tersebut mengundang gelak tawa, cemoohan, dan keanehan. Bagaimana seseorang masuk agama Syi’ah, sementara mereka tidak mengetahui sama sekali ilmu hadits; sebuah agama yang semuanya adalah kerugian, dan permainan serta kesia-siaan. Oleh karena itu,  tidak memeluk agama ini  orang  yang berakal dan berilmu. Akan tetapi yang masuk hanyalah orang yang tidak nalar, tidak berilmu, atau orang yang mencari harta atau kedudukan.

Agar saya tidak terlalu panjang dalam sisi ini, maka biarkanlah kita menghadirkan bersama sanad-sanad Syi’ah, dan periwayatannya dengan disertai komentar bahwa itu tidak dimaksudkan untuk mengajak tertawa, sekalipun benar-benar layak mengundang tawa, akan tetapi ini adalah sebuah ajakan untuk memperhatikan dan merenungkannya. Mudah-mudahan Allah Subhanallahu wa Ta’ala menuliskan hidayah bagi setiap orang yang mencari kebenaran dan orang-orang yang tertipu dengan agama Syi’ah.
Kami akan memilih kitab Syi’ah yang terpenting dan paling shahih dalam hal hadits, yaitu kitab Ushulul Kafi yang kata mereka setara dengan al-Bukhari menurut ahlussunnah.
Kita akan mempelajari kondisi sanad periwayatannya yang aneh, yang tidak akan dipercayai oleh akal. Maka diantara rlwayat-riwayat dalam kitab Ushulul Kafi, adalah sebagal berikut:

1.  Diriwayatkan beberapa hadits dan seorang laki-laki (Siapa laki-laki ini? tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
2.  Dari seorang laki-laki penduduk Bashrah (siapa dia, dan apa biografinya, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
3.  Dari seekor keledai (tentu saja, tidak perlu kita tanyakan siapa keledai ini, dan apa biografinya, akan tetapi cukuplah Syi’ah merasa terhormat dengan meriwayatkan hadits-hadits mereka dari seekor keledai)
4.  Dari sebagian sahabat-sahabat kami (siapa sahabat-sahabat tersebut, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
5.  Dari sejumlah sahabat-sahabat kami (siapa sahabat-sahabat tersebut, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
6.  Dari seorang  laki-laki dari Thabaristan, dan disebut Muhammad (Iihatlah kalimat, ‘disebut    Muhammad’ lalu siapa Muhammad ini, apa biografinya? Tidak ada seorang pun yang tahu)
7.  Dari  seseorang yang menyebutkannya (ini termasuk teka-teki sanad yang ada pada syi’ah)
8.  Dari orang yang mengabarkannya (ini juga teka-teki sanad pada Syi’ah)
9.  Dari seorang laki-laki penduduk Madinah (siapa dia, dan apa biografinya, hingga kita bisa mengetahui ketersambungan sanad? Tidak ada seorang pun yang tahu)
10.  Dari sebagian sahabat-sahabat kami, saya kira dia adalah as-Sayyari (lihatlah kepada kedetailan sanad, perhatikantah agama ini yang berdiri di atas persangkaan)
11.  Dari seorang laki-laki penduduk Kufah yang dipanggil Abu Muhammad (Siapa dia dan biografinya, tidak ada seorang pun tahu, kemudian perhatikanlah kedetilan Syi’ah dalam menetapkannya)
12.  Dari sebagian sahabatnya dari penduduk Iraq (Allahu akbar, inikah sanad yang wajib bagi kita untuk mengambil agama kita darinya, dan kita yakin akan keshahihannya?!)
13.  Dari seorang laki-laki dari penduduk Halwan (!)
14.  Dari sebagian perawinya (!)
15.  Dari orang yang meriwayatkannya(!)

Siapa yang bisa percaya bahwa ini adalah keadaan mayoritas periwayatan Syi’ah?
Jadi, dengan segenap kemudahan, menjadi jelaslah bahwa mayoritas sanad-sanad periwayatan Syi’ah mengandung sanad-sanad seperti ini yang diriwayatkan dari orang-onang majhul (tidak diketahui). Maka bagaimana para pengikut suatu agama mengambil agama mereka dari orang-orang majhul (tak diketahui) yang menukilkan untuk mereka bagaimana mereka beribadah kepada Rabb mereka?!
Maka jika ini adalah keadaan hadits yang paling shahih pada Syi’ah, maka bagaimana keadaan kitab-kitab mereka yang lain?!

Sesungguhnya termasuk perkara yang telah kami tinjau, kami simpulkan bahwa para ulama Syi’ah tidak mengakui sanad-sanad ini. Adakalanya karena mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, atau bahwa mereka mengetahui bahwa agama mereka tidak memiliki ushul dan qawa ‘id dalam ilmu yang agung ini (ilmu hadits, red). Dan sesungguhnya, termasuk bukti-bukti jelas, lagi terang, yang tidak menerima keraguan sama sekali bahwa para ulama Syi’ah tidak mengakui sanad adalah apa yang kami temukan dalam kitab NahjuI Balaghah yang mengandung khutbah-khutbah yang dinisbahkan kepada ‘All bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu, yang telah dikumpukan oleh as-Syanif ar-Ridha. Jika kita rnengetahui bahwa ar-Ridha dilahirkan pada tahun 359 H, dan dia melakukan pengumpulan khutbah khutbah ‘Ali radiyallahu anhu dalam kitab yang dia bernama NahjuI Balaghah sekitar tahun 400 H, dan seandainya jika juga tahu bahwa ‘Ali radiyallahu anhu mati syahid pada tahun 40 H, maka tersingkaplah bahwa antara Ali radiyallahu anhu dan ar-Ridha terpaut sekitar 360 tahun.

Jadi, bagaimana mungkin ar-Ridha mampu mengumpulkan khutbah-khutbah ‘Ali radiyallahu anhu dalam kitab tanpa mengalami tahrif (penyimpangan, pemalsuan), apalagi khutbah-khutbah tersebut tanpa sanad-sanad. Bahkan ar-Ridha mengisyaratkan dalam permulaan setiap khutbah, ‘Dan di antara khutbah beliau ‘alaihiss salam.” Bahkan yang lebih tercela dari ini adalah bahwa kitab tersebut paling shahih setelah al-Qur’an menurut $yi’ah!

Al-Amin berkata dalam A’yanus Syi’ah, ‘Sesungguhnya Nahjul Balaghah, bersamaan dengan keshahihan sanad-sanadnya dalam berbagal kitab, dan keagungan kedudukan, keadilah, dan ketsiqahan pengumpulnya, maka tidak membutuhkan saksi atas keshahihan penisbatannya kepada Imamul Fashahah wal Balaghah, bahkan dia memiliki berbagai penguat darinya
Dia juga berkata dalam halaman yang sama,’Kami katakan bahwa Nahjul Balaghah tidak membutuhkan penguat, bahwa dia sendiri yang menyaksikan dirinya sendiri sebagaimana matahari tidak membutuhkan saksi bahwa dia adalah matahari’ (A’yanus syi’ah, juz I bab Kalamun fi NahjiI Balaghah, hal. 79)
Demikianlah al-Amin Iari dari penetapan keshahihan penisbatan  khutbah-khutbah yang ada dalam kitab tersebut kepada Ali radiyallahu anhu, meninggalkan metode ilmiah, lalu bersaksi dengan ucapan seperti ini yang berhak untuk ditulis dengan air radiator.

Sungguh, benar-benar termasuk perkara yang menggelikan adalah bahwa datang seorang dan Syi’ah kemudian memberikan komentar atas kitab-kitab hadits pada Ahlussunnah yang mereka (ahlussunnah) itu telah meletakkan dasar-dasar ilmu hadits, dan bersendirian (teristimewakan) tanpa pemeluk agama-agama manapun, dan tanpa kelompok kelompok sesat yang menisbahkan dirinya kepada Islam dengan dusta. Karena sesungguhnya perkara pertama yang dilihat oleh ahli hadits pada ahlussunnah adalah sanad, dan sisi ketersambungannya. Yang demikian itu adalah demi menjauhkan dan berbagai perkara yang menggugurkan, seperti mursal, munqathi, mudallis, khafiy, dan mu’allaq. Kemudian setelah itu melewati langkah berikutnya, yaitu mengetahui para perawi dan tingkat kejujuran mereka, yaitu masalah jarh wat ta’dil dan segala perkara yang dikandungnya dan pengenalan ilmu sejarah para perawi, dan ilmu nama-nama para perawi. Dan saat ada kontradiksi pada sebagian hadits, maka dilihatlah matannya. Seluruh ilmu yang agung ini, dikhususkan oleh Allah bagi ahlussunnah wal jama’ah. Maka jadilah agama mereka adalah agama yang benar, sementara selain mereka tersesat di dalam lautan kegelapan dan kesesatan.

Maka segala puji bagi Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat mengikuti agama yang memiliki kaidah-kaidah rinci, dan ushul yang bersih dalam mengetahui kebenaran dan kebatilan kepada kita. (AR)*

Sumber: Majalah Qiblati edisi 01 Tahun VII

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar