Tak Selembut Sangka Ku (Cerbung Bag. 2)

Bookmark and Share
Murtakibudz Dzunub - [Ya Allah... sungguh benar-benar aku tak tega melihatnya meneteskan airmata dihadapanku. Aku hanya meninggalkan pesan terahir saat pertemuan itu, "Hasna, kamu jangan terlalu kecewa ya, jodoh itu rahasia Allah. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Allah menganugerahkan rasa yang berbeda". Saya berusaha melapangkan hati Hasna'.]

Saat itu Hasna' hanya diam seribu bahasa entah apa yang ada dalam pikirannya. Langkah kakiku serasa berat meninggalkan Hasna', rasa bersalah pastilah ada dan menumpuk dalam hatiku.

***

Siang itu bunyi sms membangunkan bangun dari tidur qailulah, "emm.. sepertinya ada yang salah kirim pesan, tapi bagus juga kata-katanya", bisikku dalam hati.

"maaf ya... sepertinya anda salah kirim pesan", balasku.

Tak tahunya yang punya pesan nyasar tadi malah calling,

"assalamu'alaikum...",

"wa'alaikumussalam..", loh kok suara cewek.

Kalau dilihat dari gaya bahasanya sepertinya dia termasuk 'anak gaul' yang sangat berbeda sekali denganku. Saya pun menimpali percakapan seperlunya, tapi cewek itu emang pinter membuat topik pembicaraan, hingga akhirnya kita pun berkenalan. Diana itulah nama dari cewek itu.

Ahirnya kami pun akrab meski hanya bersahabat melalui handphone, karena rupanya Diana penasaran juga dan ingin mengenal lebih jauh tentangku. Saya jarang menghubunginya lebih dulu karena jarang punya pulsa hehe, ya maklum aja karena saat itu saya belum bekerja, habis menyelesaikan pendidikanku dipesantren. Sedangkan Diana sepertinya dari keluarga yang berada.

Pernah saya tanya dengan basa-basi "eh.. kamu sehari bisa habis pulsa berapa?". 

"nggak tahu, gak pernah ngitung sih. Ya pokoknya tiap aku calling kamu habis pulsa sekitar 25ribuan lah". dalam hati saya "weleh... kalau aku sih 25rb bisa buat 2 minggu".

Sejak perkenalan saya dengan Diana, saya tidak mempunyai perasaan apa-apa semua murni saya jalani dengan harapan kehadiran saya bisa membawa manfaat untuk Diana terutama dalam hal agama.

Hingga suatu saat,

"As'ad.. kita ketemuan yuk, aku penasaran ingin lihat kamu", ajak Diana.

"waduuh... ketemuan??" jawabku agak grogi.

"iya... ketemuan, please mahu yaa...",

"ee.. ee.. anu.. Diana, maaf bukannya aku gak mahu nurutin keinginan kamu tapiii...",

"tapi kenapa? pokoknya kamu harus mahu ya...", desak Diana

Akupun tidak bisa menolak keinginan Diana, hawatir kalau dia kecewa. Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu dengan Hasna' dalam hati saya berjanji akan lebih hati-hati lagi terhadap perempuan karena perasaan sudah mengecewakan hatinya masih menempel dihatiku, dan saya tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.

Saya dan Diana pun ketemuan ditempat yang telah dijanjikan, kesan pertama lihat Diana di dunia nyata lumanyan ngagetin juga. Dia belum menggunakan jibab dan memakai celana ketat sebatas lutut, agak risih juga sebenarnya diriku. Kita tidak berdua, saya mengajak salah seorang teman dan diapun begitu. Karena memang itu syarat yang aku ajukan keadanya kalau ingin bertemu.

Setelah pertemuan itu, 

"kamu kecewa nggak melihatku...", isi sms dari Diana

"ya enggak lah... masak kecewa melihat perempuan secantik dirimu" balasku, rupanya naluri lelakiku tidak bisa tertahan ingin memujinya.

"ahaha... hayooo, kamu mulai ngerayu aku kan?",

***

Siapakah Diana itu? Setelah aku mengenalnya rada lumayan jauh ada sesuatu yang membuat ku tertarik bukan hanya suaranya yang halus dan lembut melainkan selain dia juga cantik, rupanya dia tertarik ingin mempelajari agama lebih jauh setelah mengenalku. Tanpa disadari akupun menaruh kekaguman tersendiri dengan sosok Diana.

Entah apa penilaian Diana tentangku, karena saya tidak pernah menanyakan. Hanya yang aku ingat dia pernah bilang "kenapa ya... setelah aku mengenalmu hidupku terasa nyaman aja...".

Hingga tak jarang aku pun merasa, "apakah selama ini dia yang aku cari?". Saya mempunyai prinsip salah satunya, 'aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti orang yang pandai ilmu agama atau tidak, aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti  sudah mengenakan jilbab atau belum, aku hanya akan menilai dari hati dan sifatnya. Lembut, penuh kasih sayang kepada sesama, dan yang terpenting adalah bukan seorang wanita yang materealistis terhadap dunia karena itu adalah sifat yang paling tidak aku sukai dari seorang wanita.

bersambung....
_____________



{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar